
sinopsisfilm.org — Ada pekerjaan yang terdengar heroik—menyelamatkan manusia, membuka koloni baru, jadi bagian sejarah. Tapi bayangkan kalau pekerjaan itu sebenarnya cuma versi halus dari kalimat: “Kalau kamu mati, ya cetak lagi.”
Itulah rasa getir yang menempel di alur cerita film Mickey 17. Bukan sekadar sci-fi tentang luar angkasa, tapi cerita tentang manusia yang diperlakukan seperti barang habis pakai—dan tentang makhluk asing yang justru lebih “beradab” daripada sebagian manusia.
Awal Kekacauan: Mesin Kloning dan Lahirlah “Multiples”
Tahun 2045, seorang ilmuwan bernama Alan menciptakan mesin yang mampu mengkloning tubuh manusia secara sempurna. Masalahnya bukan cuma soal sains. Masalahnya: kloning itu bisa ada lebih dari satu pada saat bersamaan—dan itu memicu kekacauan sosial.
Di satu sisi, kelompok ilmuwan dan pemuka agama mengutuk teknologi ini karena dianggap merusak konsep “satu jiwa, satu tubuh.” Di sisi lain, ada yang memuja kloning sebagai lompatan besar peradaban. Dari konflik itulah muncul panggung politik—dan seorang tokoh bernama Marshall melihat kesempatan emas.
Marshall dan Proyek Koloni Nifleim: Kloning dengan Aturan Mati
Marshall, politisi ambisius, memutuskan memakai teknologi kloning untuk mendukung ekspedisi ke planet Nifleim (tujuan: membangun koloni manusia). Tapi ia juga memasang garis merah: jika ada “multiples” (lebih dari satu kloning aktif), maka kloning-kloning itu akan dihukum mati.
Solusinya dibuat rapi: hanya satu orang yang “boleh” dicetak ulang berkali-kali, dengan pengawasan ketat. Orang itu disebut expendable—manusia yang memang disiapkan untuk menjalankan misi paling berbahaya, bahkan sampai mati, lalu hidup lagi.
Kedengarannya efisien. Nyatanya? Sadis.
Mickey dan Timo: Kabur dari Mafia, Masuk ke Neraka Baru
Di bumi, Mickey Barnes dan sahabatnya Timo dikejar mafia karena utang besar. Mereka minta kesempatan terakhir, tapi ancamannya jelas: kabur sejauh apa pun, akan tetap diburu.
Akhirnya mereka memilih kabur “lebih jauh dari ujung dunia”: ikut ekspedisi luar angkasa Marshall.
Timo, berpendidikan, diterima sebagai petugas keamanan. Mickey—yang merasa tak punya nilai jual—panik. Saat melihat lowongan expendable, ia mendaftar tanpa benar-benar paham konsekuensinya. Dan di sinilah takdir Mickey berubah: ia menukar kebebasan dengan status manusia yang boleh mati berkali-kali.
Expendable: Ketika Kematian Jadi Rutinitas Kerja
Sistemnya brutal tapi rapi. Tubuh Mickey dipindai, datanya disimpan, ingatannya di-backup dan diperbarui berkala. Lalu misi dimulai:
Ia disuruh memperbaiki komponen di luar pesawat—ternyata untuk menguji efek radiasi pada manusia.
Ia dijadikan kelinci percobaan gas beracun.
Saat sampai di Nifleim, ia disuruh melepas pelindung dan menghirup udara planet itu—yang berujung kematian karena virus.
Mickey mati. Dicetak lagi. Mati lagi. Dicetak lagi.
Di tengah siklus ini, satu hal yang membuatnya tetap waras adalah Nasha—satu-satunya orang yang benar-benar memihak Mickey, menemani, membela, bahkan melawan petugas lain yang melecehkannya.
Kalau kamu pikir ini kisah “pahlawan,” film ini seperti ingin berkata: pahlawan juga bisa dibuat dari orang yang dipaksa.
Creepers: Monster Cacing yang Ternyata Menolong
Saat eksplorasi Nifleim, tim bertemu makhluk mirip cacing raksasa—disebut Creepers. Awalnya semua mengira mereka predator mematikan. Tapi ada detail yang memutar arah cerita: Mickey jatuh ke lubang, dikepung Creepers… dan tidak dibunuh.
Mereka justru menolongnya keluar.
Ini momen penting dalam alur cerita film Mickey 17: ancaman terbesar di planet itu bukan makhluk asing, melainkan keputusan manusia sendiri—yang memaksakan dominasi tanpa memahami.
Mickey 17 Bertemu Mickey 18: Salah Satu Harus Mati
Karena laporan palsu dari Timo (yang mengira Mickey sudah mati), pihak koloni mencetak Mickey baru. Maka lahirlah Mickey 18.
Dan di bawah aturan Marshall, dua Mickey aktif berarti “multiples”—hukuman mati.
Konflik jadi personal: Mickey 18 digambarkan lebih agresif, sadis, dan tanpa takut. Ia bahkan mencoba membunuh Mickey 17, membawa tubuhnya ke tempat pembakaran sampah. Namun mereka akhirnya “bernegosiasi” secara terpaksa: kalau dua-duanya mau hidup, mereka harus menyembunyikan fakta itu rapat-rapat.
Masalahnya, rahasia selalu bocor—apalagi ketika ada kekuasaan yang paranoid.
Kekejaman Koloni: Eksperimen Makanan, Manipulasi, dan Kontrol
Marshall bukan cuma ingin membangun koloni; ia ingin membangun tatanan—dan mengatur manusia seperti alat produksi.
Mickey dijadikan tester makanan sintetis yang berbahaya, nyaris mati lagi, lalu disuntik obat eksperimental yang malah memperparah kondisinya. Semua terasa seperti perusahaan paling toksik di galaksi: KPI-nya adalah “berapa kali kamu tumbang.”
Di titik ini, Mickey 18 semakin membara dan berniat membunuh Marshall. Mickey 17 panik: kalau Mickey 18 bergerak, semuanya akan hancur—termasuk Nasha.
Kebenaran tentang Creepers: Cerdas, Berbahasa, dan Punya Harga Diri
Saat bayi Creepers tertangkap dan bahkan dibunuh, Creepers dalam jumlah besar mengepung pesawat. Bukan menyerang membabi-buta, melainkan seperti menunggu keputusan manusia berikutnya.
Seorang ilmuwan (Dorothy) menemukan fakta krusial: Creepers cerdas, punya pola suara sebagai bahasa, bahkan dibuat prototipe alat penerjemah. Ini menggeser konflik dari “monster vs manusia” menjadi “penduduk asli vs penjajah.”
Marshall tetap ngotot ingin memusnahkan mereka. Yifa (istrinya) bahkan merencanakan hal yang lebih gila: memasang rompi bom pada Mickey 17 dan 18 dan menyuruh mereka mengumpulkan ekor Creepers—semacam kompetisi hidup-mati yang menjijikkan.
Akhir Konflik: Pengorbanan, Negosiasi, dan Runtuhnya Mesin Kloning
Mickey 17 memilih jalan yang lebih “manusia”: memperingatkan Creepers dan mencoba komunikasi. Creepers menuntut keadilan: nyawa dibayar nyawa. Lalu terjadi pengorbanan besar—Mickey 18 memilih menebus semua kekacauan dengan meledakkan dirinya dan membunuh Marshall.
Sesudah itu, kekuasaan Marshall runtuh. Banyak kaki tangannya dihukum. Yifa berakhir tragis. Nasha kemudian menjadi pemimpin koloni dan menghancurkan mesin kloning—sebuah simbol bahwa manusia tidak seharusnya memperlakukan hidup sebagai file yang bisa di-copy-paste.
Dan twist kecil yang getir sekaligus lucu: ancaman Creepers yang katanya bisa menghancurkan apa pun lewat suara… ternyata hanya gertakan. Kadang, yang paling menakutkan memang bukan senjatanya—tapi keyakinan kita sendiri bahwa kita berhak menekan makhluk lain.
Kenapa Cerita Ini Nempel di Kepala?
Karena film ini memainkan pertanyaan yang sederhana tapi menusuk: kalau seseorang bisa dicetak ulang, apakah hidupnya jadi lebih murah?
Di permukaan, ini cerita koloni luar angkasa. Di bawahnya, ini kritik tentang eksploitasi, propaganda, dan bagaimana “kemajuan” sering dipakai sebagai alasan untuk menormalisasi kekejaman.
Dan Mickey—yang awalnya cuma ingin kabur dari utang—malah menemukan hutang yang lebih besar: hutang pada martabatnya sendiri.






