22 Februari 2026

sinopsisfilm.orgPernah kebayang dunia akhirnya “berdamai” dengan dinosaurus… lalu tiba-tiba damainya retak gara-gara proyek rahasia yang ngincer DNA? Nah, alur cerita Jurassic World: Rebirth (2025) versi narasi ini bermain di situ: saat manusia menganggap semuanya mulai terkendali, ada pihak yang justru ingin membuka kembali pintu yang dulu nyaris menelan semuanya.

Yang bikin menarik: ancamannya bukan cuma dinosaurus “normal”. Ada eksperimen, mutasi, dan satu pulau terlarang yang rasanya seperti museum horor—bedanya, semua yang di dalamnya hidup dan lapar.


Prolog 17 Tahun Sebelumnya: Laboratorium Rahasia yang Berantakan oleh Hal Sepele

Cerita dibuka dengan kilas balik di sebuah laboratorium penelitian tersembunyi milik Ingen, berlokasi di Île Saint Hubert (Samudra Atlantik). Tempat ini dipakai untuk eksperimen genetika: mentransgenetik dinosaurus, menciptakan versi baru yang lebih “aneh”, lebih mematikan, dan jelas lebih sulit dikendalikan.

Ironinya, kekacauan besar bermula dari hal sepele. Seorang ilmuwan bernama Williams membuat masalah kecil yang memicu malfungsi sistem, alarm berbunyi, semua orang panik, dan pintu pengaman terkunci sebelum ia sempat kabur. Di momen itulah teror lepas kendali: seekor T-Rex cacat berkaki enam yang dijuluki Distortus Rex (Dir) berhasil lolos… dan William jadi korban pertama.

Dari sini, film seperti memberi sinyal: di dunia Jurassic, bencana jarang datang dengan trompet. Kadang cuma lewat “kesalahan receh” yang efeknya seperti domino.


Masa Kini: Dinosaurus Menyusut, Zona Katulistiwa Jadi Neraka Terlarang

Lanjut ke masa sekarang, dinosaurus di daratan mulai punah karena iklim bumi berubah dan tidak ramah untuk spesies purba. Yang tersisa kebanyakan bertahan di wilayah sekitar Katulistiwa, karena iklimnya dianggap paling mirip zaman Mezozoikum.

Wilayah itu kemudian ditetapkan sebagai zona terlarang bagi manusia. Di atas kertas alasannya simpel: berbahaya. Tapi di cerita ini, larangan justru terasa seperti undangan bagi pihak yang punya uang, ambisi, dan “alasan mulia” yang terdengar terlalu rapi.


Tawaran yang Sulit Ditolak: Zora Benet dan Misi Ekstraksi DNA

Masuklah tokoh utama: Zora Bennett, mantan agen rahasia militer. Ia didekati Martin Krebs, perwakilan perusahaan farmasi Parker Genix (di narasi disebut begitu), yang menawarkan kerja sama untuk misi ekstraksi DNA dinosaurus di zona Katulistiwa.

Zora awalnya menolak—wajar, karena tempat itu terlarang dan disebut punya sejarah kelam. Tapi Martin menjual mimpi besar: DNA itu akan dipakai untuk obat medis yang bisa menyelamatkan jutaan nyawa. Dan ya, ada “bumbu” terakhir: bayaran tinggi. Akhirnya Zora setuju.

Di sini film main cantik: motif “kemanusiaan” dan “uang” diletakkan berdampingan. Penonton jadi kepikiran, yang mana yang benar-benar mendorong misi ini?


Merekrut Ahli dan Kapten: Henry Loomis hingga Tim Ekspedisi

Zora dan Martin kemudian menemui ahli paleontologi Henry Loomis di museum dinosaurus. Target mereka jelas: mengambil sampel DNA dari tiga makhluk raksasa—Mosasaurus, Titanosaurus, dan Quetzalcoatlus. Bagi Loomis, kesempatan melihat mereka di alam liar adalah mimpi yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Rombongan lalu bergerak ke Paramaribo, Suriname, untuk merekrut kapten kapal Duncan Kincaid (nama di transkrip terdengar seperti itu) beserta timnya: Bobby, Nina, dan Leek/Lekrek. Duncan menegaskan satu aturan: di daerah terlarang, semua orang harus patuh instruksi kapten.

Loomis juga menunjukkan alat suntik/tembak pengambil DNA: setelah menancap dan mengambil sampel, tabungnya akan “meluncur” lalu parasut terbuka, mendarat aman untuk diambil. Secara konsep ini terasa seperti teknologi “praktis”—dan sekaligus mengingatkan: mereka datang bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk mengambil sesuatu.


Insiden Kapal Keluarga Ruben: Mosasaurus Mengamuk di Laut

Di sisi lain, muncul subplot keluarga: Reuben Delgado berlayar bersama dua putrinya Teresa dan Isabella, plus pacar Teresa, Xavier. Ruben tidak suka si pacar—dianggap malas dan tidak meyakinkan.

Lalu datang kejadian yang mengubah semuanya: kapal mereka ditabrak dan dibalik oleh Mosasaurus yang mengamuk, mengira kapal itu ancaman. Mereka terombang-ambing, bertahan pakai pelampung, berusaha mengakses radio darurat. Teror ini terasa “liar” karena terjadi begitu cepat—tak ada briefing, tak ada persiapan, hanya insting.

Sinyal radio Ruben akhirnya tertangkap oleh kapal ekspedisi. Tim sempat debat: lanjut ke target atau menolong orang? Duncan memilih menyelamatkan Ruben. Keputusan “benar” ini justru menyeret mereka ke bencana berikutnya.


Ekstraksi DNA yang Berujung Petaka: Spinosaurus dan Korban Berjatuhan

Saat ekspedisi mencoba mengambil DNA Mosasaurus, mereka berhasil—Zora menembak sasaran, sampel darah terkumpul. Tapi kebahagiaan itu pendek. Sekelompok Spinosaurus muncul (di narasi disebut sering “membantu” Mosasaurus berburu). Suasana berubah dari misi ilmiah jadi survival.

Bobby menembak untuk bertahan, namun salah satu Spinosaurus menyerang dan melahap Bobby. Kekacauan makin menjadi ketika Mosasaurus kembali menyerang kapal. Terjadi insiden yang membuat Teresa jatuh ke laut, memancing Ruben dan Xavier terjun menolong. Kapal akhirnya menabrak bebatuan, para penyintas terpencar dan menepi ke pulau.

Dan di pulau ini, ceritanya “naik level”.


Pulau Eksperimen: Mutadon, Jejak Helikopter, dan Rahasia yang Bau

Pulau tempat mereka terdampar ternyata bekas fasilitas eksperimen. Martin menjelaskan bahwa tempat ini dulu disiapkan untuk semacam “taman dinosaurus baru”—yang isinya lebih ekstrem, lebih berbeda, bahkan ada yang terlalu menyeramkan untuk dimusnahkan karena biaya penelitian per ekor sangat besar.

Di hutan, mereka menemukan hal-hal yang memperkuat kesan pulau terkutuk: kalung tersangkut, reruntuhan helikopter, mayat pilot, bahkan pistol yang akhirnya diambil Martin untuk berjaga-jaga (atau mungkin untuk kepentingan lain).

Sementara itu, Isabel menemukan bayi Aquilops yang sudah bermutasi, lalu mengadopsinya dan memberi nama Dolores. Ini jadi titik hangat di tengah neraka: ada naluri manusia untuk melindungi yang kecil, bahkan ketika dunia sedang runtuh.


DNA Titanosaurus dan Quetzalcoatlus: Misi Tercapai, Nyawa Dibayar Mahal

Tim ekspedisi berhasil menemukan Titanosaurus di ladang hijau. Loomis emosional—ini pengalaman pertama melihat raksasa itu hidup di depan mata. Zora mengeksekusi tugas: sampel DNA diambil.

Target terakhir adalah Quetzalcoatlus. Mereka memanjat tebing, masuk ke gua yang menyerupai kuil, lalu mengambil sampel dari telur untuk meminimalkan risiko. Tapi tetap saja, induk Quetzalcoatlus datang. Kekacauan terjadi. Leek/Lekrek dikejar dan akhirnya dimangsa tepat di hadapan rekan-rekannya. Sampel sempat hampir hilang, tetapi Loomis berhasil menyelamatkannya.

Secara struktur, bagian ini terasa seperti pesan keras: “Ilmu pengetahuan tanpa batas keselamatan” itu selalu minta tumbal.


Fasilitas Lama Hidup Lagi: Mutadon Menyerang dan Dir Menghancurkan Helikopter

Rombongan keluarga Ruben dan tim ekspedisi akhirnya bertemu di fasilitas laboratorium lama. Konflik meledak: Teresa marah pada Martin karena dianggap menghalangi permintaan pertolongan via radio sebelumnya. Martin meredakan situasi dengan pistol—cara cepat, tapi bikin semua makin tidak percaya.

Lalu generator menyala, fasilitas seperti “hidup” lagi, dan dua dinosaurus mutasi Mutadon muncul menyerang. Keluarga Ruben bersembunyi di supermarket; Isabel bahkan masuk lemari es untuk menghindari sergapan. Di waktu lain, Martin kabur dengan mobil, meninggalkan Zora. Motif aslinya makin terbaca: bukan soal keselamatan tim, tapi soal koper sampel.

Puncaknya: saat Loomis menyalakan suar, bukan cuma pilot yang melihat—Distortus Rex (Dir) juga tertarik. Dir menghancurkan helikopter beserta kru. Jalan pulang “resmi” habis.


Pelarian Lewat Terowongan: Pengorbanan, Balas Dendam, dan Keputusan Akhir

Satu-satunya jalan keluar adalah terowongan bawah pulau yang terhubung ke laut. Mereka bergerak lewat pipa, menemukan gerbang besi, dan hanya tubuh kecil Isabel yang bisa menerobos untuk menarik tuas.

Dir muncul lagi. Di momen genting, Martin datang menabrak Dir dengan mobil—tapi itu tidak membuatnya jadi pahlawan; ia justru dilumat Dir. Zora mengambil koper sampel dan melanjutkan pelarian.

Di dermaga, Duncan mengalihkan perhatian Dir dengan suar, semacam pengorbanan agar yang lain sempat menyiapkan perahu. Namun ternyata Duncan masih selamat dan berhasil diselamatkan. Mereka akhirnya kabur dari pulau menggunakan perahu, membawa Dolores juga keluar bersama Isabel.

Bagian penutupnya memberi kontras yang “dingin tapi lega”: setelah semua darah dan kehilangan, mereka memandang laut—dan hidup tetap berjalan.


Ending: DNA untuk Kebaikan, Tanpa Paten

Setelah sampel DNA dari ketiga makhluk berhasil dikumpulkan, Zora dan Loomis membahas penggunaan sampel itu. Mereka ingin hasilnya dipakai untuk kebaikan dunia, menciptakan obat, dan mendistribusikannya tanpa hak paten agar semua orang bisa mendapatkan akses.

Lalu film ditutup dengan mereka mengarungi lautan, melihat lumba-lumba melompat—seolah semesta bilang: “Kalian baru saja keluar dari neraka, tapi dunia masih bisa indah kalau kalian memilih benar.”


Penutup

Itulah alur cerita Jurassic World: Rebirth (2025) berdasarkan transkrip narasi di atas: misi ekstraksi DNA yang berubah jadi mimpi buruk, pulau eksperimen yang menyimpan mutasi, dan keputusan moral di ujung pelarian. Pertanyaannya sekarang: kalau kamu ada di posisi mereka—tetap bawa pulang DNA demi “obat”, atau hancurkan semuanya sebelum ada yang mengulang kesalahan yang sama?