10 Januari 2026

sinopsisfilm.orgBayangkan kamu sedang menyusuri hutan gelap, terburu-buru mengejar masa depan yang terasa tinggal selangkah lagi. Lalu—BRAK. Bukan rusa. Bukan hewan biasa. Seekor unicorn. Dari titik inilah Death of a Unicorn memulai mimpi buruknya.

Film rilisan 2025 ini menawarkan pendekatan segar terhadap mitos klasik unicorn. Bukan makhluk manis penuh pelangi, melainkan simbol alam yang buas, pendendam, dan tak bisa dieksploitasi tanpa konsekuensi. Dibintangi Paul Rudd, Jenna Ortega, dan Bill Pullman, film ini memadukan horor, thriller, dan kritik tajam terhadap keserakahan manusia.

Undangan Makan Malam yang Mengubah Segalanya

Cerita berfokus pada Elliot, seorang eksekutif perusahaan farmasi, dan putrinya, Ridley. Mereka diundang makan malam oleh bos Elliot, Odell, di sebuah vila terpencil di tengah hutan cagar alam. Bagi Elliot, undangan ini bukan sekadar basa-basi—ia yakin posisinya sebagai pemimpin perusahaan sudah di depan mata.

Ridley, sebaliknya, merasakan keganjilan sejak awal. Ibunya telah meninggal bertahun-tahun lalu, dan perjalanan ini terasa seperti awal dari sesuatu yang keliru. Firasa itu terbukti saat mereka menabrak seekor unicorn di tengah jalan hutan.

Darah Ungu yang Menyembuhkan

Unicorn yang mereka tabrak terluka parah, darah ungu mengalir dari tubuhnya. Saat Ridley menyentuh tanduknya, ia mengalami penglihatan aneh, seolah masuk ke dimensi lain. Panik melihat putrinya kejang, Elliot memukul unicorn itu hingga tak bergerak.

Namun kematian makhluk ini justru membuka rahasia mengejutkan. Darah unicorn ternyata memiliki efek penyembuhan luar biasa. Jerawat Ridley menghilang seketika, sementara mata minus Elliot sembuh total. Di sinilah godaan manusia mulai berbicara lebih keras daripada nurani.

Vila, Penelitian, dan Awal Keserakahan

Sesampainya di vila, Odell—yang sedang sekarat akibat kanker—tertarik dengan khasiat darah unicorn. Alih-alih melaporkan kejadian ini ke pemerintah, ia memilih meneliti makhluk tersebut secara diam-diam. Unicorn diperlakukan bukan sebagai makhluk hidup, melainkan komoditas medis bernilai tak terbatas.

Ridley mencoba memperingatkan semua orang. Ia menemukan kisah unicorn dalam permadani abad pertengahan—makhluk buas yang hanya bisa dijinakkan oleh gadis berhati murni. Dalam kisah itu, unicorn yang dibunuh akan bangkit dan membalas dendam. Sayangnya, peringatan ini dianggap dongeng belaka.

Kebangkitan Induk Unicorn

Penelitian berlanjut. Serbuk tanduk unicorn bahkan berhasil menyembuhkan kanker Odell dalam semalam. Kesembuhan ini memperkuat ambisi Odell untuk menjual “keajaiban” tersebut kepada orang-orang kaya di seluruh dunia.

Namun alam tak tinggal diam. Sinyal bioelektrik dari tanduk unicorn meningkat. Malam itu, seekor unicorn dewasa muncul—induk dari bayi unicorn yang dibunuh. Ia menyerang vila dengan brutal, menewaskan para peneliti dan penjaga.

Di sinilah film berubah dari thriller menjadi horor tanpa kompromi.

Ikatan Ridley dan Unicorn

Di tengah kekacauan, Ridley menyadari sesuatu yang krusial: unicorn tidak menyerangnya. Ada ikatan misterius sejak ia menyentuh tanduk bayi unicorn. Dugaan ini mengarah pada satu kesimpulan mengerikan—unicorn datang bukan hanya untuk membunuh, tapi mengambil kembali jasad anaknya.

Namun Odell dan keluarganya tetap dikuasai keserakahan. Mereka bahkan berniat menangkap unicorn dewasa demi keuntungan lebih besar. Elliot, terjebak antara moral dan ancaman kehilangan pekerjaan, terpaksa ikut berburu ke hutan.

Keserakahan yang Memakan Korban

Satu per satu karakter menuai akibat pilihannya. Odell tewas ditusuk unicorn. Belinda dan Shepard menunjukkan sisi tergelap manusia: manipulasi, pengkhianatan, dan obsesi terhadap kekuasaan. Ridley dipaksa menggunakan kemurnian hatinya untuk menjinakkan unicorn demi eksploitasi lebih lanjut.

Di titik nadir cerita, Elliot akhirnya memilih. Ia menolak masa depan yang dibangun di atas darah dan penderitaan. Pilihan itu membuatnya harus membayar mahal.

Penyembuhan, Pengorbanan, dan Pelarian

Dalam klimaks emosional, unicorn-unicorn tersebut menyatukan tanduk mereka. Cahaya aneh muncul, menyembuhkan bayi unicorn dan menghidupkan kembali Elliot. Ini bukan mukjizat gratis—melainkan pengingat bahwa alam memberi kehidupan, bukan untuk diperdagangkan.

Unicorn-unicorn itu kemudian pergi kembali ke hutan, meninggalkan manusia dengan puing-puing keserakahan mereka.

Penutup yang Pahit dan Ironis

Saat polisi datang, Elliot dan Ridley justru dituduh sebagai pelaku pembantaian. Namun sekali lagi, unicorn campur tangan, menghancurkan mobil polisi demi menyelamatkan mereka.

Death of a Unicorn berakhir dengan ironi tajam. Manusia selamat bukan karena kekuatan, teknologi, atau uang—melainkan karena belas kasih makhluk yang mereka sakiti.

Film ini menyampaikan pesan sederhana namun menggigit: alam tidak bisa dikendalikan, dan keserakahan selalu datang dengan harga yang mahal. Dan ya, satu pesan praktis yang tak kalah penting—jangan ngebut di hutan. Kamu tak pernah tahu apa yang bisa kamu tabrak.