
sinopsisfilm.org — Good News (2025) datang bukan sebagai film bencana biasa. Ia tidak menjual ledakan berlebihan atau heroisme klise, melainkan menyuguhkan komedi hitam geopolitik yang sinis, cepat, dan penuh ironi. Dirilis secara global oleh Netflix pada Oktober 2025, film ini langsung mencuri perhatian sejak pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival.
Alih-alih bertanya “apakah pesawat akan selamat?”, film ini justru mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman: siapa yang akan mengklaim kemenangan, dan siapa yang akan dikorbankan demi citra politik?
Latar Cerita: Ketika Kebenaran Menjadi Properti Politik
Cerita Good News (2025) berlatar tahun 1970, periode penuh ketegangan geopolitik di Asia Timur. Sebuah pesawat penumpang Jepang dibajak oleh kelompok komunis radikal yang menuntut diterbangkan ke Korea Utara. Situasi ini segera berubah menjadi krisis internasional yang melibatkan Jepang, Korea Selatan, dan kepentingan militer Amerika Serikat.
Masalahnya sederhana namun berbahaya: tidak ada hubungan diplomatik yang memungkinkan solusi terbuka. Setiap langkah berpotensi memicu konflik yang lebih besar. Di tengah kebuntuan inilah pemerintah Korea Selatan diam-diam memanggil seorang fixer misterius yang hanya dikenal sebagai Nobody.
Rencananya terdengar gila—menipu para pembajak agar mendarat di bandara Korea Selatan yang disulap menyerupai Pyongyang. Sebuah kebohongan besar, dijalankan dengan presisi, demi menyelamatkan sandera tanpa memicu perang.
Sutradara dan Gaya Penyutradaraan
Film ini disutradarai oleh Byun Sung-hyun, nama yang dikenal lewat pendekatan visual stylish dan karakter moral abu-abu dalam karya sebelumnya seperti The Merciless dan Kill Boksoon.
Di Good News, ciri khas tersebut tetap terasa. Dialog cepat, potongan adegan agresif, dan ritme yang hampir tak memberi napas membuat dua pertiga awal film terasa seperti mesin yang bekerja tanpa henti. Walau durasinya melampaui dua jam dan sedikit melambat di bagian tengah, klimaksnya berhasil mengembalikan intensitas penuh.
Akting dan Karakter: Karikatur yang Disengaja
Sorotan utama jatuh pada Sol Kyung-gu sebagai Nobody. Ia bukan pahlawan klasik, melainkan figur sinis, manipulatif, dan sering kali tampak menikmati kekacauan. Permainannya memadukan pesona eksentrik dengan kecerdikan dingin, menjadikan karakter ini pusat gravitasi film.
Di sisi lain, Hong Kyung berperan sebagai Letnan Angkatan Udara Seo Gyeong, tokoh yang berfungsi sebagai jangkar moral. Perkembangannya—dari perwira ambisius pencari medali menjadi sosok yang benar-benar berani—memberi sentuhan emosional yang jarang dalam komedi hitam.
Sementara itu, Ryu Seung-bum tampil memuakkan sekaligus lucu sebagai kepala intelijen Korea Selatan. Karakternya adalah representasi telanjang dari birokrasi yang egois dan tidak kompeten—dibenci, tapi sulit tidak ditertawakan.
Visual, Sinematografi, dan Atmosfer Era 1970-an
Sinematografi garapan Lee Hyung-deok menekankan kontras visual yang kuat. Interior pesawat digambarkan dengan kamera goyah dan close-up sempit, menciptakan rasa claustrophobic yang nyata. Sebaliknya, ruang kontrol di darat tampil steril, dingin, dan jauh dari bahaya—ironi visual yang tajam.
Transformasi Bandara Gimpo menjadi “Pyongyang palsu” adalah salah satu kekuatan produksi. Set-nya terasa teatrikal dan artifisial, sengaja dibuat demikian untuk mencerminkan kebohongan besar yang sedang dipentaskan.
Tema Utama: Kemenangan yang Dibangun di Atas Kebohongan
Inti Good News (2025) bukanlah penyelamatan sandera semata, melainkan satir tentang propaganda, manipulasi informasi, dan kepengecutan birokrasi. Film ini mempertanyakan nilai sebuah kemenangan jika dibangun di atas kebohongan, serta siapa yang berhak menentukan apa yang disebut “berita baik”.
Alih-alih meninggalkan penonton dengan kesedihan, film ini menyisakan rasa waspada dan skeptis. Kita tertawa, lalu menyadari bahwa absurditas di layar tidak sepenuhnya fiksi.
Penilaian Akhir
Good News (2025) adalah tontonan wajib bagi penikmat komedi hitam politik, thriller geopolitik, dan film yang berani mengejek kekuasaan. Dengan skor 8/10, film ini berhasil memadukan ketegangan nyata dengan humor gelap yang cerdas.
Namun, film ini mungkin tidak cocok bagi penonton yang mencari drama bencana konvensional atau narasi heroik yang lurus. Ini adalah film tentang kebohongan yang direncanakan dengan rapi—dan betapa seringnya dunia nyata bekerja dengan cara yang sama.






